Home

  • Freaker

    Selamat Datang

    Selamat datang freaker !! Blog ini resmi saya rilis setelah 2 hari di permak.Silahkan untuk menikmati setiap tulisan yang ada
  • Kotak Biru Berhiaskan Pita Merah Jambu

    Kotak Biru Berhiaskan Pita Merah Jambu

    Anggun..Mungkin itulah yang tergambar pertama kali dalam benaknya saat berpapasan dengan seorang gadis di Taman Anggrek 5 tahun yang lalu..
  • Ameliorate

    Ameliorate

    Banyak hal yang menarik , bila memandang hidup yang kita jalani lewat berbagai prespektif.Ketika hidup dirasa tak adil , ketika menghakimi
  • Malam Terakhir di Mekkah

    Malam Terakhir di Mekkah

    Pagi menjelang subuh pkl 1.00 AST – 6.00 WIB Wajah cantiknya semakin tersapu oleh dinginnya malam, lengkungan garis hitam
  • Ku Harap Esok

    Pertama kalinya lagi aku seperti ini, seperti kacau semacam tak bisa lepas dari sesuatu yang entah itu apa entah aku tidak mengerti.

Rabu, 22 Juni 2011

Mate(Realistis)

Posted by Freaking Writer | On: , |
Ketika jemari sedang asyik mengetuk-ngetuk keyboard , mengoreksi deretan source code dan logika yang payah dari amatiran kayak saya.Tiba-tiba lagu Can't Buy Me Love-nya Michael Buble muncul dari speaker rebek karena keseringan di set poll.Sejenak ketikan saya berhenti , "kok baru denger yak lagu ini!?" gumam pemuda 20 tahun (saya tau , saya udah gak 'layak' di sebut teenagers).Mencoba meresapi aluyan jazz yang ngebeat dengan lyrik agak nakal dan menggoda untuk mendapat porsi lebih dari intuisi saya.Penggalan lyrik yang membuat hati saya tertarik : "I don’t care for much money , cause money just can't buy me love" ..


Sederhana sih lyriknya , Cuma sayanya aja yang lebay :D
Tapi itu cukup bagi saya untuk sedikit menelisik penggalan lyrik tersebut .Apakah orang dengan gender apapun , bila menjadikan uang sebagai salah satu takaran yang di perhitungkan dalam menentukan suka atau tidak terhadap orang lain , layak untuk di sebut materialistis !? Atau justru realistis !?

Jujur , saya lebih suka menyebutnya realistis.Toh dalam kehidupan saat ini , uang adalah variable yang valuable untuk menjadi daya tarik orang bagi orang lain.Kita meyakini hal itu , tepatnya saya meyakini hal tersebut.
Namun tidak berarti saya mendewakan uang , itu Cuma nilai plus kok.Dan realita saat ini pun sangat setuju bila uang adalah jimat untuk meraih apa yang kita inginkan.(Mungkin termasuk cinta bagi orang tertentu , saya buka orang tertentu).

Menurut saya , tingkatan takaran uang sebagai variable dalam suatu komitmen atau relasi , berbanding lurus dengan : usia , keseriusan sebuah komitmen dan gaya hidup.Artinya , semakin tinggi usia , tingkat keseriusan dan gaya hidup , maka semakin tinggi pula peran uang dalam komitmen tersebut.Bukan berarti , materialistik.Kita harus realistis , bahwa semakin bertambah usia kita , maka semakin banyak kebutuhan yang harus kita penuhi untuk sekedar memuaskan hasrat kebendaan misalnya.Atau saat kita menentukan untuk menikah , kemapanan fiansial adalah faktor yang tentu harus di perhitungkan untuk kelangsungan hubungan pernikahan tersebut.Apalagi bila memiliki gaya hidup yang tinggi , absolut sudah peran uang dalam kehidupannya.Yang buram disini ialah , nominal uang tersebut yang menjadi relatif bila dikaitkan dengan relasi.Jamaknya , relasi adalah hubungan dari dua orang manusia.Kecuali anda seorang poligamisme (opooo iki !? Haha ..) , atau hidung belangisme (nambah parah :P ).Kebutuhan 2 person yang berbeda , harus di lebur jadi satu dan mengambil rataannya sebagai patokan demand terhadap uang.Itu pun kalo belum punya anak , kalo udah ya beda lagi itungannya.

Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi tingkat demand terhadap uang dalam sebuah relasi selain ketiga faktor di atas , namun sifatnya khusus dan personal.Misalnya pengalaman pribadi.Yang mengetahui ada suatu hubungan timpang dimana hanya satu person yang bertugas sebagai sumber uang , sementara yang lainnya menjadi lintah pemalas.Biasanya syndrome ini menjangkiti kaum hawa.Dia tau , bahwa ada cowok yang menggantungkan kebutuhan finansialnya dari cewek.Untuk itulah , dia sangat berhati-hati dalam memilih pasangan , dan mencoba untuk mendapatkan pasangan yang nantinya bisa menjamin hidupnya sejahtera , atau paling tidak saling menjamin.

Ada lagi faktor yang sifatnya global.Misalnya corak suatu bangsa.Indonesia contohnya.Negara yang awalnya gak ngaku kapitalis , namun akhirnya di telanjangi oleh kebenaran sesungguhnya.Dengan corak tersebut (kapitalis) , maka muncullah kaum jetset yang menginginkan hal serba instan.Buat apa masak , toh banyak kok warung makanan cepat saji.Atau , untuk apa menjahit.Di mall banyak tuh baju yang mencuri hati untuk mengenakannya.Dan banyak lagi hal-hal instan lain yang menuntut kebugaran finansial sebagai penopang untuk melakoninya.

Sejatinya , kita adalah makhluk yang tidak pernah puas.Apalagi terhadap hal menyangkut hasrat.Namun bukanlah sebuah alasan yang menjadi pembenaran bila kita mendewakan kebendaan.Alih-alih , kita bisa menjadikannya motivasi untuk bekerja keras dan terus memperbaiki diri.Sulit memang , saya juga belum bisa :D

Ngomong-ngomong soal kerja keras , program saritel yang di pesan 3 minggu lalu belum juga kelar.Yang punya mandat kayaknya udah skeptis sama kapasitas dan kapabilitas saya :(
Makanya , saya cukupin aja tulisannya sampe sini.

Tambahan :: Ketika menulis catatan ini , saya di temani kopi dan rokok di tangan.Artinya , saya masih ngantuk.Jadi , resiko saya menulis dengan keadaan ngelantur sangatlah tinggi.Saya gak nanggung kalo hal negatif menjangkiti anda setelah membacanya :D :D :D



Simak Juga Posting Lainnya: